
Saat Anak Perbatasan Mulai Bermimpi, Malinau Jadi Inspirasi Negeri
Jakarta— Dari wilayah perbatasan di Kalimantan Utara, Kabupaten Malinau membawa cerita tentang semangat membangun masa depan melalui literasi.
Di tengah tantangan akses dan keterbatasan geografis, masyarakat Malinau menunjukkan bahwa budaya membaca dapat tumbuh kuat dengan kolaborasi dan kepedulian bersama.
Kisah tersebut disampaikan dalam gelar wicara nasional bertajuk “Cerita dari Perbatasan Indonesia di Malinau: Praktik Baik Partisipasi Semesta dalam Pembangunan Literasi” yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bersama INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia), program kemitraan Australia–Indonesia di bidang pendidikan, di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Bunda Literasi Malinau, Ny. Maylenty Wempi, hadir bersama para pegiat literasi yang selama ini aktif bergerak langsung di tengah masyarakat.
Mereka di antaranya Ketua Ikatan Keluarga Baca Malinau (IKBM) Belvi, pegiat literasi TBM Lasan Baca Zsa Zsa Suhartiningtyas, serta Kepala Desa Kuala Lapang Yeyen Meiasim.
Turut hadir Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dengan moderator Sekarsari Utami dari RRI.
Ny. Maylenty Wempi menyampaikan bahwa literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga tentang membangun harapan bagi anak-anak di wilayah perbatasan agar berani bermimpi lebih tinggi dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, gerakan literasi harus menjadi gerakan bersama yang hidup di tengah masyarakat, dimulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah daerah.
“Literasi adalah harapan. Harapan tentang anak-anak di perbatasan yang berani bermimpi lebih tinggi, keluarga yang mencintai buku, dan masyarakat yang percaya bahwa pendidikan mampu mengubah masa depan,” ungkapnya.
Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa pembangunan literasi yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, sekolah, keluarga, komunitas, desa, mitra pembangunan, penulis, penerbit, pustakawan, hingga pegiat literasi dinilai memiliki peran penting dalam menumbuhkan budaya baca yang kuat dan berkelanjutan.
Kabupaten Malinau dinilai berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berkembang. Berbagai inovasi layanan literasi yang dekat dengan masyarakat terus dihadirkan sesuai kebutuhan daerah.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menyebut Malinau memiliki kekuatan signifikan dalam penguatan literasi, khususnya sebagai wilayah perbatasan yang terus berkembang.
Ia juga menyampaikan bahwa kontribusi Malinau turut mendorong capaian indeks kegemaran membaca Kalimantan Utara yang mencapai 58,89, melampaui rata-rata nasional sebesar 54,8.
Menurut Hafidz, dukungan pemerintah melalui distribusi buku, pembinaan komunitas literasi, serta pemanfaatan platform digital telah membantu memperluas akses pembelajaran masyarakat.
Pendekatan yang diterapkan di Malinau bahkan dinilai berpotensi menjadi model pengembangan literasi yang dapat direplikasi di daerah lain dengan menyesuaikan kondisi sosial, budaya, geografis, dan kelembagaan masing-masing wilayah.
Kegiatan gelar wicara ini merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang dilaksanakan bersama Pemerintah Kabupaten Malinau dan mitra pembangunan INOVASI. Dari wilayah perbatasan, Malinau menghadirkan kisah sederhana penuh harapan yang kini menginspirasi Indonesia. (Penyunting/sa)



