Malinau
Bukan Sekadar Pentas, Komunitas Seni Perlu Punya Visi dan Rencana Jangka Panjang
Rully Yulianti Pratiwi
14 July 2026
10 views

Bukan Sekadar Pentas, Komunitas Seni Perlu Punya Visi dan Rencana Jangka Panjang

Malinau – Keberlanjutan organisasi seni tidak cukup hanya mengandalkan pertunjukan atau dukungan dana pemerintah. Yang lebih penting adalah memiliki visi yang jelas, komitmen bersama, serta kemampuan membangun kolaborasi agar seni dan budaya tetap hidup lintas generasi. Pesan tersebut disampaikan Septi Hariana, Manajer Pengembangan dan Kemitraan Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Manajemen Seni 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Malinau melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di Ruang Laga Feratu, Selasa (14/7/2026). Menurut Septi, fondasi utama dalam mengelola organisasi seni adalah memiliki visi dan misi yang kuat. Kegiatan seperti latihan rutin, pertunjukan, maupun festival hanyalah bentuk implementasi dari tujuan besar sebuah komunitas seni. "Yang paling prinsip dalam manajemen seni adalah visi dan misi organisasi. Kegiatan seni hanyalah bentuk, sedangkan yang harus dijaga adalah tujuan untuk merawat seni dan budaya agar terus berkelanjutan," ujarnya. Ia menilai, saat ini sebagian besar komunitas seni masih bergantung pada undangan tampil, hibah pemerintah, maupun sponsorship. Karena itu, melalui pelatihan ini para peserta diajak melihat potensi lain yang dimiliki komunitas, mulai dari sumber daya manusia, lingkungan, hingga nilai budaya yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan organisasi. Septi juga mendorong setiap komunitas menyusun perencanaan jangka panjang, mulai dari target satu tahun, tiga tahun, lima tahun hingga sepuluh tahun. Menurutnya, langkah tersebut penting agar arah pengembangan organisasi tetap konsisten dan regenerasi dapat berjalan dengan baik. Dalam pelatihan ini, Yayasan Padepokan Seni Bagong Kussudiardja membagikan pengalaman sebagai studi kasus mengenai pengelolaan organisasi seni yang telah berdiri sejak 1978. Para peserta diajak mempelajari bagaimana sebuah warisan budaya dapat terus berkembang melalui tata kelola organisasi yang baik, program seni yang berkelanjutan, serta kemitraan dengan berbagai pihak. Ia menegaskan, kolaborasi menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem seni yang sehat. Organisasi seni tidak bisa berjalan sendiri, tetapi perlu bekerja sama dengan pemerintah, dunia usaha, komunitas, maupun berbagai sektor lainnya yang memiliki tujuan sama dalam melestarikan budaya. Terkait pendanaan, Septi menilai funding seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai bantuan, melainkan sebagai investasi jangka panjang untuk menjaga keberlangsungan praktik seni dan budaya. "Funding adalah salah satu sumber daya. Yang terpenting adalah bagaimana pendanaan itu menjadi stimulus agar komunitas mampu menciptakan peluang ekonomi baru dan terus menjalankan misinya melestarikan budaya," katanya. Melalui pelatihan ini, ia berharap para pelaku seni di Kabupaten Malinau memperoleh wawasan baru dalam mengelola organisasi secara profesional, mandiri, serta mampu membangun kolaborasi yang berkelanjutan demi menjaga kelestarian seni dan budaya daerah.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...