
Malinau Jadi Percontohan Keberhasilan Program Pembelajaran Digital Sekolah Enuma
Malinau – Ketua Yayasan Litara, Edi Wahyu, mengatakan Program Sekolah Enuma Indonesia telah memberikan dampak positif terhadap peningkatan kemampuan literasi dan numerasi anak-anak di Kabupaten Malinau sejak mulai dilaksanakan pada 2022.
Saat ditemui usai penutupan Program Sekolah Enuma Indonesia 2026 di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Rabu (15/7/2026), Edi menjelaskan program tersebut memanfaatkan aplikasi pembelajaran interaktif yang dikembangkan Enuma Corporation untuk membantu anak belajar melalui metode bermain.
"Aplikasi ini awalnya dikembangkan untuk pembelajaran matematika dasar, kemudian dilengkapi dengan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Program ini sangat cocok digunakan untuk anak usia dini, mulai PAUD hingga sekitar kelas 3 atau 4 SD," ujarnya.
Di Malinau, program ini dilaksanakan bekerja sama dengan 19 Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selama empat tahun pelaksanaannya, sebanyak 1.227 anak telah terdaftar dan dipantau perkembangan belajarnya melalui sistem Learning Management System (LMS).
Melalui sistem tersebut, setiap aktivitas belajar anak dapat dipantau, mulai dari durasi belajar, perkembangan materi yang telah diselesaikan, hingga capaian pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Menurut Edi, keunggulan program ini adalah materi pembelajaran yang menyesuaikan kemampuan masing-masing anak. Anak yang mampu menyelesaikan tantangan lebih cepat akan memperoleh materi lanjutan, sementara anak yang membutuhkan waktu lebih lama tetap dapat belajar sesuai kecepatannya tanpa merasa tertinggal.
"Pembelajaran ini bersifat personal. Setiap anak berkembang sesuai kemampuan dan kecepatan belajarnya masing-masing," jelasnya.
Ia juga mengungkapkan hasil studi perbandingan yang dilakukan pada 2023 menunjukkan capaian peserta di Malinau termasuk yang terbaik dibandingkan daerah lain yang mengikuti implementasi program serupa. Salah satu peningkatan paling menonjol terlihat pada kemampuan bahasa Inggris.
Keberhasilan tersebut didukung pendampingan Yayasan Litara bersama The Head Foundation, lembaga nirlaba asal Singapura, yang juga mendukung pelaksanaan program di sejumlah wilayah Indonesia.
Setelah sukses di Malinau, program ini diperluas ke Kabupaten Nunukan pada 2024 dan Kabupaten Bulungan pada 2025. Hingga kini, lebih dari 2.000 anak di Kalimantan Utara telah memanfaatkan aplikasi Sekolah Enuma Indonesia.
Edi menambahkan, setiap daerah memiliki pengalaman yang berbeda. Di Nunukan, misalnya, aplikasi ini terbukti membantu anak-anak yang mengalami keterlambatan belajar, termasuk anak yang sebelumnya belum lancar membaca serta anak berkebutuhan khusus.
Ke depan, Yayasan Litara berharap Sekolah Enuma Indonesia dapat menjadi alternatif pembelajaran yang melengkapi proses belajar di sekolah, terutama bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Menurutnya, kebutuhan utama program ini adalah ketersediaan perangkat tablet. Sementara itu, akses internet tidak harus tersedia setiap saat karena data pembelajaran dapat direkam secara offline dan disinkronkan secara berkala untuk kebutuhan evaluasi perkembangan belajar anak.



