Malinau
Yakin Sungai Tubu akan Maju
DISKOMINFO MALINAU
30 December 2016
809 views

Yakin Sungai Tubu akan Maju

MALINAU – Bupati Malinau Dr Yansen TP MSi meyakini bahwa Kecamatan Sungai Tubu akan tumbuh dan berkembang menjadi kecamatan yang maju dan sejahtera. Asalkan masyarakat bersemangat dalam membangun Kabupaten Malinau, khususnya Sungai Tubu.

Saat memberi arahan kepada camat, kepala desa dan masyarakat dari desa-desa se-Kecamatan Sungai Tubu beberapa waktu lalu dalam sebuah pertemuan di Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Bupati Yansen TP meminta masyarakat Sungai Tubu untuk tidak berpeluk dada. Karena kedua tangan yang diberikan Tuhan digunakan untuk bekerja, diberikan pikiran untuk berpikir dan diberikan hati untuk bersikap dengan kebesaran hati membangun Malinau.

“Jangan remehkan hati, pikiran dan tangan. Oleh sebab itu saya tidak mau lagi kita berpeluk dada. Mulai hari ini,” tegasnya.

Ia memberika penegasan seperti itu agar masyarakat sadar akan kemajuan Sungai Tubu. “Sungai Tubu ini  ada di pikiran dan hati bapak ibu. Kalau pikiran, hati dan tangan dapat bekerja untuk Sungai Tubu, saya yakin kemajuan akan sama dengan wilayah lainnya,” ungkapnya.

Dikatakan Yansen, ia sudah melihat dan mengunjungi Sungai Tubu saat menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malinau beberapa tahun silam. Saat itu, ia sudah berpikir bahwa tidak akan terjadi perubahan jika masyarakatnya sendiri tidak mempunyai cara yang tepat untuk berubah.

Selanjutnya, setelah menjabat sebagai Bupati Malinau di periode pertama, pada tahun 2011 lalu, ia kembali berkunjung ke Sungai Tubu dan berpikir apa yang bisa dirinya buat kemajuan Sungai Tubu. Dari itulah, ia mendapat konsep dan gambaran untuk pembangunan di Kecamatan Sungai Tubu yang sebelum menjadi kecamatan. Salah satu pemikirannya saat itu sudah berhasil dilaksanakan dengan adanya jalan darat dari ibu kota kabupaten ke Kecamatan Sungai Tubu dan terlaksananya dengan baik program Gerakan Desa Membangun (Gerdema).

“Sekarang saya datang lagi, saya semakin melihat apa yang harus saya buat. Tapi syaratnya, kalau saya mau berbuat seperti yang saya pikirkan, saya bekerja. Semangat, pikiran dan tenaga seperti apa, itulah yang ada di bapak ibu, makanya saya ajar bapak berpikir begitu,” tuturnya seraya mengatakan bahwa tidak ada bedanya dirinya dengan masyarakat yang ada di Kabupaten Malinau, khususnya di Sungai Tubu, karena sama-sama diberikan Tuhan otak untuk berpikir, hati untuk merasakan dan tangan untuk bekerja.

“Nanti kalau saya pulang, ada bupati dan semangat bupati itu di desa-desa, baru dia bisa berubah. Di mana pun bunga, tetaplah cantik. Ayo senyum dan semangat, itu yang menjadi modal besar. Kalau bapak ibu yang membangun ini sudah malas dan lemas, maka gak ada yang dapat dibuat kalau hidup kita seperti itu,” ujarnya menyemangati masyarakat desa seperti semangat yang ia miliki membangun Malinau.

“Jadi mulai hari ini, bapak ibu harus semangat. Jangan lagi malas-malasan, jangan lagi loyo-loyo. Di sini semua luar biasa, mulai dari udara, alam, hingga makanan. Kalau tangan ini kerja, gak ada orang yang lapar di Sungai Tubu ini,” sambungnya.

Contohnya, kata bupati, di Sungai Tubu ikan melimpah, daging hasil buruan melimpah, sayur mayur melimpah. Ikan di Sungai Tubu besar-besar dan masih segar, tidak seperti di kota yang kebanyakan sudah tidak segar dan orang kaya di kota belum tentu bisa makan ikan seperti di Sungai Tubu yang bisa makan ikan kapan pun masyarakat mau, asalkan bekerja mencarinya.Saat ini, lanjutnya, Sungai Tubu sudah terbuka, tidak terisolir lagi. Bupati mengibaratkan jangan seperti seekor jangkrik yang terkurung di dalam sebuah kotak selama bertahun-tahun dan saat dibebaskan dari kotak, tetap tidak bergerak meloncat karena sudah tertanam dipikirannya saat terkurung, dunianya hanya seluas dan selebar kotak itu saja.Maka, dengan terbukanya keterisoliran wilayah, bupati meminta masyarakat untuk meloncat dan bergerak sekuat-kuatnya untuk membangun daerahnya masing-masing, terutama di desa-desa yang sudah diberi kewenangan untuk membangun dan mengelola.“Selama ini kan susah mau ke Malinau. Pikir lewat sungai susah dan gak mungkin naik pesawat, karena tidak ada pesawat. Sekarang, sungai pun masih bisa dipakai kalau kita mau. Tapi darat pun kapan saja kita bisa pakai. Ayo mulai berubah, harus berubah cara berpikir kita. Jangan lagi berpikir seperti jangkrik tadi. Bapak ibu bukan lagi jiwa yang terkungkung. Ingat, bukan lagi jiwa dan pikiran terkungkung, tapi bebas,” pungkasnya. (ags/aan)sumber : kaltara.prokal.coAGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...