Malinau
Kisah Bunda Literasi Ny. Maylenty Menembus Batas Geografis demi Literasi Anak Malinau
Rully Yulianti Pratiwi
30 September 2026
0 views

Kisah Bunda Literasi Ny. Maylenty Menembus Batas Geografis demi Literasi Anak Malinau

Jakarta – Jarak yang jauh, medan yang menantang, hingga keterbatasan akses tidak menyurutkan langkah Bunda Literasi Kabupaten Malinau Ny. Maylenty Wempi, S.E., untuk membawa semangat literasi semakin dekat kepada anak-anak di pedalaman dan wilayah perbatasan Kabupaten Malinau.

Kisah perjuangan tersebut dibagikan Ny. Maylenty saat hadir dalam program TV One di Jakarta, Selasa (29/9/2026). Sebagai Bunda Literasi Kabupaten Malinau, ia menceritakan bagaimana membangun budaya membaca di daerah dengan kondisi geografis yang luas membutuhkan perjuangan dan kolaborasi.

Malinau memiliki wilayah yang luas. Sejumlah kampung berada jauh dari pusat pemerintahan dengan jarak antarkampung yang tidak selalu mudah ditempuh. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam menghadirkan akses pendidikan, bahan bacaan, maupun ruang belajar bagi masyarakat.

Namun, bagi Ny. Maylenty, kondisi geografis bukan alasan untuk berhenti. Justru dari keterbatasan itulah semangat untuk mendekatkan literasi kepada masyarakat terus tumbuh.

Ny. Maylenty tidak hanya berbicara tentang literasi dari ruang pertemuan. Ia juga turun langsung mengunjungi taman bacaan dan bertemu anak-anak di sejumlah wilayah.

Pada 14 September 2026, misalnya, Ny. Maylenty mengunjungi TBM Vahu Singkai Putat di Desa Putat. Di sana, kegiatan literasi dikemas dengan cara yang dekat dengan dunia anak, mulai dari mendongeng, bernyanyi hingga mengenalkan angka, abjad dan Pancasila.

Beberapa hari kemudian, pada 19 September 2026, Ny. Maylenty kembali menyambangi TBM Long Loreh di Kecamatan Malinau Selatan.

Kehadirannya di tengah anak-anak tidak hanya menjadi kunjungan seremonial. Ia melihat langsung bagaimana ruang-ruang sederhana di desa dapat menjadi tempat anak-anak belajar, membaca, bermain, sekaligus membangun keberanian untuk bermimpi.

Bagi Ny. Maylenty, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca sebuah buku. Literasi adalah pintu bagi anak-anak untuk mengenal pengetahuan yang lebih luas, memahami lingkungan, membangun karakter, serta memiliki cita-cita tentang masa depan.

Karena itu, keberadaan TBM di desa-desa menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem literasi Malinau.

Semangat tersebut juga sejalan dengan upaya pemerintah daerah memperluas akses pendidikan melalui berbagai program. Literasi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan sumber daya manusia, termasuk bagi anak-anak yang tinggal jauh dari pusat kota.

Ny. Maylenty menyadari bahwa perjuangan tersebut tidak mungkin dilakukan seorang diri.

Pemerintah, guru, orang tua, pengelola TBM, masyarakat dan berbagai pihak perlu bergerak bersama agar anak-anak di pedalaman dan perbatasan tetap memiliki akses terhadap pengetahuan.

Sebab, tantangan geografis seharusnya tidak menentukan sejauh mana seorang anak boleh bermimpi.

Bagi anak yang tinggal di pedalaman Malinau, sebuah buku mungkin terlihat sederhana. Namun dari buku itulah mereka dapat mengenal dunia yang jauh lebih luas dari kampung tempat mereka tinggal.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...