Malinau
Desa Seruyung Perkuat Pencegahan Stunting melalui Gerakan Menanam Kelor
Rully Yulianti Pratiwi
14 September 2026
13 views

Desa Seruyung Perkuat Pencegahan Stunting melalui Gerakan Menanam Kelor

Malinau – Pemerintah Desa Seruyung, Kecamatan Malinau Utara, terus memperkuat upaya pencegahan stunting dengan melibatkan pemerintah desa, kader kesehatan, PKK, tenaga kesehatan dan masyarakat. Salah satu langkah yang didorong adalah pemanfaatan daun kelor sebagai pangan lokal bergizi yang mudah ditanam di lingkungan rumah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Desa Seruyung, Tinus Tabir, dalam sambutannya pada kegiatan sosialisasi pencegahan stunting, edukasi manfaat daun kelor, penanaman pohon kelor serentak serta cek kesehatan gratis, pada Jumat (11/9/2026).

Tinus mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari koordinasi lintas sektor Kecamatan Malinau Utara yang menetapkan wilayah Malinau Utara sebagai pilot project pencegahan dan penanganan stunting.

Menurutnya, pencegahan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan. Pemerintah desa, ketua RT, PKK, kader kesehatan, tokoh masyarakat hingga keluarga memiliki peran yang saling berkaitan.

Ia menjelaskan, pemerintah desa berkomitmen memberikan dukungan dan memastikan setiap persoalan kesehatan di masyarakat mendapat tindak lanjut. Sementara tenaga kesehatan berperan memberikan pemeriksaan dan pelayanan, sedangkan keluarga menjadi bagian utama dalam menjaga kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak.

Salah satu upaya yang didorong Desa Seruyung adalah gerakan menanam minimal satu pohon kelor di setiap rumah. Kelor dipilih karena merupakan tanaman yang mudah tumbuh dan dapat menjadi sumber pangan lokal bergizi bagi keluarga.

“Kami ingin mendorong masyarakat menanam pangan lokal bergizi yang mudah diperoleh dan dapat tumbuh di pekarangan rumah. Salah satu tanaman yang kami pilih adalah kelor,” katanya.

Ia menyebutkan, daun kelor mengandung sejumlah zat gizi seperti protein nabati, vitamin A, vitamin C, zat besi, kalsium dan kalium yang dapat mendukung kebutuhan gizi keluarga.

Namun, Tinus menegaskan bahwa kelor bukan obat dan bukan satu-satunya solusi untuk mencegah stunting. Pemanfaatannya tetap harus menjadi bagian dari pola makan yang beragam dan bergizi seimbang, terutama dengan memenuhi kebutuhan protein hewani seperti telur, ikan, ayam dan daging.

“Kelor merupakan pangan lokal pendukung yang harus dikonsumsi bersama makanan yang beragam dan bergizi seimbang,” jelasnya.

Tinus berharap ke depan Desa Seruyung dapat dikenal sebagai Desa Kelor, bukan hanya karena banyaknya pohon kelor yang ditanam, tetapi karena masyarakat mampu merawat dan memanfaatkannya untuk mendukung kesehatan keluarga.

Selain penanaman kelor, kegiatan tersebut juga diisi dengan sosialisasi stunting, edukasi kesehatan serta pelayanan cek kesehatan gratis dari tim Dinas Kesehatan dan Puskesmas Malinau Seberang.

Masyarakat juga didorong untuk rutin memeriksakan kesehatan, membawa bayi dan balita ke Posyandu setiap bulan, memastikan ibu hamil melakukan pemeriksaan secara teratur serta memenuhi kebutuhan gizi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Tinus menekankan, komitmen pencegahan stunting tidak boleh berhenti setelah kegiatan selesai. Pohon kelor yang ditanam harus dirawat, ibu hamil yang berisiko harus terus didampingi, dan anak yang mengalami masalah pertumbuhan harus segera mendapatkan tindak lanjut.

“Komitmen kita adalah tidak ada keluarga yang berjalan sendiri dan tidak ada anak yang terhenti pertumbuhannya,” tegasnya.

Pemerintah Desa Seruyung berharap gerakan ini dapat terus berkembang dan menjadi langkah nyata dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mendukung pencegahan stunting di desa.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...