Malinau
Dulu Malinau Terpencil dan Tertinggal, Sekarang Bisa Nelpon
DISKOMINFO MALINAU
10 November 2016
1441 views

Dulu Malinau Terpencil dan Tertinggal, Sekarang Bisa Nelpon

MALAM ramah tamah dengan Ketua Pengadilan Tinggi Kaltim-Kaltara Dr Soedarmadji SH MH dengan pemerintah dan pejabat Pemkab Malinau Selasa (8/11) malam kemarin berlangsung sederhana. Kegiatan yang digelar di ruang guest house jabatan Bupati di Jalan Pusat Pemerintahan, Tanjung Belimbing itu dihadiri Bupati Dr yansen TP MSi, Wabup Topan Amrullah SPd MSi, pejabat FKPD Malinau, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, wanita dan tokoh agama. Apa sajakah yang diceritakan Bupati?

Widayat, Malinau

Dihadapan para tamu, Bupati Malinau Yansen TP menceritakan asal usul Kabupaten Malinau  yang merupakan hasil pemekaran dari wilayah Kabuapten Bulungan bersama dengan Kabupaten Nunukan dan Tarakan serta Kabupaten Tanah Tidung (KTT) pada Tahun 1999 silam. Kabupaten Malinau dengan luas sekitar 39 ribu kilometer persegi dengan 109 desa itu, saat ini menjadi wilayah terluas di Kalimantan Utara atau 52 persen dari seluruh wilayah provinsi Kalimantan Utara.

“Sebelum ada pemekaran, Bulungan ini mencapai 17 kecamatan. Namun kita mensyukuri terjadinya pemekaran daerah ini, sehingga sekarang bisa menikmati pembangunan sampai ke desa-desa,’’  ucap Yansen TP.

Bupati dua priode ini menyebutkan, Malinau terbagi dalam 15 wilayah kecamatan yang tersebar merata hingga ke wilayah perbatasan dan pedalaman. Lintas batas negera di Kabupaten Malinau ini mencapai 506 kilometer dengan Negara bagian Sarawak, Malaysia yang masih blank spot. Karena belum ada komunitas yang bermukim digaris batas, kecuali di desa-desa yang berdekatan dengan wilayah perbatasan.

Namun demikian, dalam kondisi yang serba terbatas ini patut disyukuri, karena sudah banyak hal yang sudah dilakukan. Dulu, Malinau ini terkenal dengan sebut tertinggal, terpencil dan terbelakang karena mobilisasi orang sangat terbatas. “Hanya menggunakan udara saja,  relative menggunakan transportasi sungai. Selebihnya menggunakan pesawat udara sehingga menimbulkan harga sangat-sangat tinggi di tingkat desa,” jelasnya.

Tapi, sambung Yansen, Kabupaten Malinau saat ini sudah tidak lagi termasuk kabupaten yang tertinggal karena sudah terbangun jalan darat. Infrastruktur terbangun dengan baik. Desa sudah tertata dan relatif kelihatan wajah ibukota kecamatan sebagai kota.  Jadi, apa yang sering dikatakan oleh masyarakat selama ini yaitu ‘Garuda Didadaku, Malaysia Diperutku’ itu sebenarnya sebuah keluhan saja. Karena memang, kebutuhan kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan itu ditopang dari Malaysia saja. Meski demikian, itu tidak menghilangkan ideologi semangatnya. “Sekarang situasi sudah berubah, transportasi sudah relatif lancar sehingga menghilangkan image  buruk dan keluhan kesah lagi. Sekarang di beberapa titik di perbatasan dan pedalaman sudah bisa dijangkau dengan telepon selular,” ujar Yansen.(aan)

sumber : kaltara.prokal.co

AGUSSALAM SANIP /RADAR TARAKAN

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...