Malinau
43 Persen Tenaga Kerja adalah Perempuan
DISKOMINFO MALINAU
07 November 2016
283 views

43 Persen Tenaga Kerja adalah Perempuan

MALINAU - Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Malinau Ir Dolvina Damus MSi memberikan pelatihan kepada pedagang sayur tradisional perempuan. Kegiatan ini diharapkan untuk memberikan pengetahuan tentang kebutuhan energi serta sumber gizi tubuh.

Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan manusia yang paling tinggi. Hal itu disampaikan dalam kegiatan pelatihan pedagang sayur tradisional yang dipusatkan di Gedung Wanita Kabupaten Malinau, Jalan Pusat Pemerintahan, Tanjung Belimbing, Kamis (3/11) siang kemarin.

Oleh karena itu, terang Anggota DPRD Malinau ini, perempuan bagian sangat penting dari kehidupan secara umum, mereka bagian dari meneruskan kehidupan. Dalam hal ini pemanfaatan SDA, perempuan adalah rata-rata 43 persen daripada tenaga kerja dan berkontribusi pada ketahanan pangan dan kehidupan keluarga.

“Oleh karena semua peranan ini, maka perempuan juga memiliki pengetahuan dan kearifan lokal yang penting dan bermanfaat jika perempuan juga mengambil peran resmi dalam kebijakan pengelolaan sumber daya alam,” tuturnya.

Tiga aspek dalam ketahanan pangan yaitu ketersediaan yang berarti jumlah pangan yang tersedia harus mampu mencukupi kebutuhan seluruh rakyat. Baik yang bersumber dari domestik maupun impor, keterjangkauan yaitu secara fisik mudah dijangkau oleh individu maupun rumah tangga.

“Serta secara ekonomi masyarakat mempunyai kemampuan untuk membeli pangan tersebut, stabilitas yang merujuk pada kemampuan meminimalkan konsumsi pangan dibawah kebutuhan standar pada saat musim sulit,” ungkap Dolvina Damus.

Dolvina juga mengungkapkan, pasal 1 PP Nomor 68 Tahun 2002, ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhnya pangan bagi rumah tangga yang tercemin dan tersedian pangan yang cukup. Baik jumlah maupun mutunya, aman merata, dan terjangkau. Ketahanan pangan  berarti adanya kemampuan mengakses pangan secara cukup untuk mempertahankan kehidupan yang sehat.

Lebih jauh lagi, dalam konteks sebuah Negara.Ketahanan pangan suatu Negeri tidaklah ditentukan dari melimpahnya ketersediaan pangan di Negeri tersebut. Melainkan dari kemampuan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan pangan mereka. Baik kualitas maupun kuantitasnya atau keterjangkauan yang tinggi terhadap pangan.

Terpenuhinya hak masyarakat untuk memiliki kemampuan guna memproduksi kebutuhan pokok pangan secara mandiri merupakan hal yang amat penting disamping ketersediaan pangan nasional itu sendiri. Sehingga kebutuhan pangan secara  mandiri, maka terpenuhi gizi masyarakat akan cenderung lebih tinggi dan ketahanan pangan yang kuat dicirikan oleh kemandirian pangan yang kuat,” ungkap aktivis perempuan Kabupaten Malinau ini.Dijelaskan, Pasar Inai ini sudah menjadi pasar tetap di Malinau karena sebagian besar pedagangnya adalah ibu-ibu yang membawa sayur-sayuran lokal dari kampung di sekitar Malinau. Bahkan boleh dikatakan, selain lokal juga organik karena dibudidayakan secara tradisonal. Buah-buahan juga dijual  di Pasar Inai sesuai musimnya.Suksesnya produk lokal yang dipasarkan para inai-inai sudah nyata di Malinau, sehingga Pemda membantu mengatur pasar khusus yang memadai di Kuala Lapang. Hasil survey dipasar Inai yang diadakan dalam bulan Desember 2015 (bagian dari survey  ketahanan pangan) menunjuk beberapa data yang menarik. “”Termasuk bahwa Pasar Inai-Inai berpeluang meningkatkan ekonomi yang baik untuk ibu-ibu dan kelompok tani jika ditata dan dikelola secara khusus bisa menjadi argo wisata Malinau,” tegasnya.(ida/aan/Radar Tarakan)WIDAYAT/RADAR TARAKAN

sumber : kaltara.prokal.co

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...