Malinau
Sampaikan Pesan Damai: “Melewa” Sakralnya Tradisi Dayak Kenyah
Admin
23 October 2025
71 views

Sampaikan Pesan Damai: “Melewa” Sakralnya Tradisi Dayak Kenyah

Malinau – Pagelaran seni budaya Dayak Kenyah menjadi salah satu suguhan istimewa dalam rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-26 Kabupaten Malinau dan Festival IRAU ke-11 tahun 2025. Bertempat di Panggung Budaya Padan Liu’ Burung, Sabtu (11/10/2025), Lembaga Adat Dayak Kenyah menampilkan prosesi adat sakral yang mereka sebut “Melewa”  sebuah tradisi penyucian diri, masyarakat, dan kampung dari hal-hal negatif untuk menumbuhkan perdamaian dan keharmonisan.

Dalam sambutannya, Bupati Wempi memberikan apresiasi tinggi kepada masyarakat Dayak Kenyah yang menampilkan kekayaan budaya dengan penuh semangat dan kebersamaan.

“Kegiatan yang ditampilkan sejak penyambutan tamu kehormatan telah menunjukkan persatuan, kesatuan, dan keharmonisan di tengah masyarakat Dayak Kenyah. Tanpa kekompakan itu, tidak mungkin acara sebesar ini dapat terlaksana,” ujar Wempi.

Bupati menegaskan bahwa budaya adalah jati diri masyarakat Malinau. Ia juga menitip pesan khusus kepada generasi muda agar tidak melupakan akar budaya mereka.

“Budaya itu ada dalam diri kita. Jangan cari budaya di tempat lain, tapi temukanlah pada dirimu sendiri. Karena kalian adalah generasi penerus budaya dan pembangunan Bumi Intimung ini,” ungkapnya.

Wempi juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan semangat kebersamaan dalam membangun Kabupaten Malinau.

“Kita masih punya perjuangan bersama mensejahterakan masyarakat, memperjuangkan keadilan, serta menjaga persatuan dan kesatuan negeri ini. Karena itu, tetaplah kompak, kompak, kompak, dan kompak,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden MADN (Majelis Adat Dayak Nasional) Dr. Marthin Billa menyampaikan kesan mendalam terhadap prosesi Melewa yang ditampilkan. Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar ritual adat, melainkan memiliki makna spiritual yang dalam bagi masyarakat Dayak Kenyah.

“Melewa berarti menyucikan diri, masyarakat, dan daerah dari hal-hal yang jahat. Intinya adalah perdamaian. Dari perdamaian itu lahir suasana kekeluargaan, persaudaraan yang kuat, dan kehidupan yang harmonis,” jelas Marthin.

Ia berharap agar makna Melewa dapat dihayati dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari sebagai semangat menjaga perdamaian dan kesejahteraan di Malinau.

“Semoga makna acara ini tidak berhenti sebagai tradisi seremonial, tapi menjadi bagian dari cara hidup masyarakat Dayak Kenyah dan seluruh masyarakat Malinau,” pesannya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Adat Dayak Kenyah Kabupaten Malinau Drs. Emang Mering menegaskan bahwa tradisi yang ditampilkan tidak bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan dan tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya yang terus dilestarikan di “Bumi Intimung”.

Pagelaran Melewa ini tidak hanya sekadar tontonan budaya. Ia adalah pesan tentang persatuan, perdamaian, dan kebanggaan masyarakat Dayak Kenyah yang terus menjaga nilai-nilai leluhur di tengah modernitas zaman.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...