
Gubernur Kalimantan Utara Buka MUBES Ke- VI Persekutuan Dayak Lundayeh di Desa Wisata Pulau Sapi
Malinau- Musyawarah Besar (MUBES) Ke- VI Persekutuan Dayak Lundayeh (PDL) berlangsung di Lapangan Ulung Buaye Balai Adat Desa Wisata Pulau Sapi, pada Rabu (25/09). Mubes ini dibuka secara resmi oleh Gubernur Kalimantan Utara Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, MM.
Dalam sambutannya Bupati Malinau yang juga sebagai Ketua Umum Persekutuan Dayak Lundayeh Dr. Yansen TP, M.Si mengatakan Mubes ke- VI PDL tahun ini merupakan rangkaian dari perjalanan panjang organisasi Lundayeh yang telah berdiri sejak tahun 1974 di Samarinda. Sebagaimana diketahui bersama bahwa organisasi ini telah terbentuk dan eksis di beberapa provinsi di Indonesia.“Kitapun bersyukur melalui proses yang panjang status hukum organisasi Persekutuan Dayak Lundayeh telah mendapatkan legalitas status hukumnya dari pemerintah Republik Indonesia. Dengan adanya pengesahan ini secara resmi telah menjadi satu organisasi kemasyarakatan di Indonesia,” ungkapnya.Pada Mubes PDL ke- VI ini lanjut Dr. Yansen, mempunyai tanggung jawab untuk melembagakan semua unsur hukum adat yang meliputi hukum perkawinan, status hutan masyarakat adat dan berbagai aspek yang bernilai strategis bagi Dayak Lundayeh.“Untuk itu Mubes PDL ke- VI ini harus lebih terarah dan kongkrit membahas, merumuskan dan melembagakan produk hukum adat Lundayeh serta menyusun program kerja yang realistis untuk dijalankan bersama. Dan Mubes ini juga sekaligus menjadi ajang silaturahmi warga Lundayeh serta mengevaluasi pelaksanaan program kerja PDL sampai pada jenjang terbawah,” ujarnya.Selain itu, momentum Mubes Persekutuan Dayak Lundayeh ke- VI ini juga akan mengagendakan Pemilihan Ketua Umum dan Pembentukan Dewan Pengurus Pusat Persekutuan Dayak Lundayeh serta Pengurus Lembaga Adat Provinsi Tahun 2019-2024.Sementara itu, Gubernur Kalimantan Utara Dr. Ir. H. Irianto Lambrie, MM mengatakan bahwa secara pribadi maupun kedinasan masyarakat adat Dayak Lundayeh bukan sesuatu yang baru baginya karena ia juga sudah menjadi bagian dari masyarakat ini.“Tepatnya kurang lebih 3 tahun yang lalu saya diberi gelar kehormatan adat oleh masyarakat adat Dayak Lundayeh Kecamatan Krayan yaitu Tepun Pudut Bawang,” ujarnya.Masyarakat adat Dayak Lundayeh ucap Dr. H. Irianto, disamping memiliki sikap kegotong-royongan yang kuat, juga memilliki sikap demokratis yang tinggi, kesetaraan dan memiliki semangat juang yang tinggi karena banyak warga Lundayeh mau bekerja dimana saja keluar dari daerahnya terutama untuk melanjutkan pendidikan.“Bahkan pada tahun 2017 saya banyak bertemu masyarakat adat Lundayeh di Jakarta, Surabaya bahkan di tempat-tempat lain di Indonesia bahkan ada juga yang di luar negeri. Jadi kesimpulannya masyarakat adat ini secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan pembentukan karakter bagi bangsa kita. Bahkan saya ingin mengatakan secara tegas mereka adalah bagian yang memiliki nasionalis yang hebat dalam menjaga perbatasan kita,” ungkapnya.“Mereka memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan kemampuan dirinya melalui pendidikan dan peningkatan upaya kesehatan. Oleh sebab itu pada saat ini banyak sekali keluarga besar kita Dayak Lundayeh ini yang alhamdulillah kehidupannya sudah jauh lebih baik dengan pendidikan. Dimana sudah ada 38 orang yang memiliki gelar doktor dan saya yakin ini akan terus bertambah,” imbuhnya.Penyelenggaraan Mubes PDL ke- VI ini kata Dr. H. Irianto, menggambarkan kualitas dari masyarakat adat Dayak Lundayeh. “Karena itu saya tidak bermaksud memuji-muji tetapi saya sudah hadir berkali-kali dalam kegiatan masyarakat adat ini, maka saya ingin menyampaikan 3 kata untuk mereka hebat, salut dan bangga,” ungkapnya lagi."Saya Ada Untuk Semua""Bersama Kita Pasti Bisa""Salam Harmonis Untuk Kita Semua”




