Malinau
Tak Sekadar Festival, Ajang Budaya Dayak Lundayeh Ini Satukan Tradisi dan Kreativitas
Rully Yulianti Pratiwi
25 May 2026
45 views

Tak Sekadar Festival, Ajang Budaya Dayak Lundayeh Ini Satukan Tradisi dan Kreativitas

Malinau– Festival Seni dan Budaya Dayak Lundayeh III resmi ditutup di Panggung Budaya Padan Liu’ Burung, Minggu (24/5/2026) malam. Penutupan kegiatan berlangsung meriah dan penuh semangat kebudayaan, serta dihadiri masyarakat, komunitas seni, dan generasi muda. Ketua Felefet Indonesia, Yosep Padenur, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya festival tersebut. Menurutnya, tradisi bukan sekadar warisan masa lalu yang hanya disimpan dan dikenang, melainkan ruang hidup tempat nilai, cerita, simbol, dan kreativitas lokal terus tumbuh dan berkembang. Ia mengatakan, tradisi menjadi fondasi identitas masyarakat sekaligus sumber inspirasi karya seni dan ruang belajar bagi generasi muda. Karena itu, budaya harus terus dikembangkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. “Tradisi dan kreativitas bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya berjalan berdampingan. Tradisi menjadi sumber kekuatan, sementara kreativitas menjadi cara agar tradisi tetap hidup,” ujarnya. Selama beberapa hari pelaksanaan festival, berbagai perlombaan digelar sebagai ruang ekspresi generasi muda. Mulai dari lomba tari kreasi tradisional yang menampilkan kekayaan budaya lokal melalui gerak dan cerita penuh makna, lomba band sebagai wadah kreativitas musik anak muda, lomba sumpit yang mengangkat kembali permainan tradisional daerah, hingga lomba lukis kanvas yang menghadirkan karya visual bertema budaya lokal. Yosep berharap festival tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga ruang belajar dan ruang berkarya bagi seluruh peserta. Ia menegaskan bahwa menang dan kalah bukan tujuan utama, melainkan bagaimana semangat persaudaraan, sportivitas, dan kecintaan terhadap budaya terus dijaga bersama. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tetap bangga terhadap budaya daerah dan tidak hanya menjadi penonton budaya, tetapi ikut menjadi pelaku dan penggerak budaya. “Budaya akan tetap hidup ketika anak mudanya mau terlibat, berkarya, dan menjaga identitasnya,” katanya. Pada kesempatan itu, Yosep turut menyampaikan perkembangan Sanggar Seni Felefet yang kini memiliki jaringan di beberapa daerah seperti Kerayan, Malaysia, Samarinda, Yogyakarta, dan Malinau, dengan anggota sekitar 200 orang yang terdiri dari pengurus, penari, pemusik tradisional, grup band, hingga pegiat seni lainnya. Ia menjelaskan, Sanggar Seni Felefet juga aktif mengikuti berbagai kegiatan budaya tingkat daerah maupun nasional. Pada tahun 2023, sanggar tersebut mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Indonesia Kaya dan berhasil meraih peringkat ke-14 dari sekitar 1.500 sanggar seni se-Indonesia. Kemudian pada tahun 2024, Felefet bersama Pemerintah Kabupaten Malinau tampil di Istana Negara, dan pada tahun 2025 mengikuti Nusantara Cultural Festival di IKN. “Atas nama keluarga besar Sanggar Seni Felefet Indonesia, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan ini. Dukungan pemerintah daerah, tokoh budaya, komunitas seni, sponsor, dan masyarakat menjadi semangat bagi kami untuk terus bergerak melestarikan budaya,” tuturnya. Festival Seni dan Budaya Dayak Lundayeh III ditutup secara resmi oleh Bupati Malinau yang dalam kesempatan tersebut diwakili Sekretaris Daerah Malinau. Acara penutupan berlangsung meriah dan meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat yang hadir.

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

* Email Anda tidak akan dipublikasikan. Semua kolom wajib diisi.

Memuat komentar...